Rektor Ketiga UIN Ar-Raniry Prof Ahmad Daudy Meninggal Dunia

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Innalillahi wa innailaihirajiun. Aceh kembali kehilangan tokoh di bidang pendidikan. Prof Dr Ahmad Daudy (88 tahun), mantan rektor Institut Agama Islam Negeri (sekarang Universitas Islam Negeri) Ar-Raniry, meninggal dunia pada, Sabtu (27/10/2018) pukul 16.00 Wib.

Informasi diperoleh Serambinews.com, almarhum menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Ahmad Daudy adalah rektor ketiga IAIN Ar Raniry. Beliau memimpin universitas Islam itu pada periode 1972-1976.

Sebelum Ahmad Daudy, jabatan rektor (pertama) IAIN Ar-Raniry dijabat oleh A. Hasjmy (1963-1965) dan rektor kedua adalah Drs.H. Ismuha (1965-1972).

Saat berita ini ditulis pada pukul 18.47 Wib, jenazah Prof Ahmad Daudy telah tiba dikediamannya, di Jalan Tgk Chik
Pante Kulu, Sektor Utara, Darussalam Banda Aceh.

“Jenazah akan dishalatkan dan dikuburkan bakda maghrib di pemakaman umum Sektor Barat, Kopelma Darussalam,” kata Teuku Farhan, aktivis Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) yang hadir di rumah almarhum.

Farhan mengatakan, saat ini rumah almarhum ramai dengan pelayat dari berbagai kalangan, terutama para akademisi dan mahasiswa di kampus Darussalam, Banda Aceh.

Almarhum meninggalkan satu istri dan 3 orang anak.

Biografi Singkat

Nama lengkap: Prof. Dr. Ahmad Daudy, MA.

Lahir: Pulo Mesjid Tangse, Pidie, 12 Desember 1930

Istri: Suzanna Idham

Anak:
– Dara Suryani
– Nur Faisal
– Nur Sidqi

Karir dan peran:

– Rektor IAIN 1972-76

– Dekan Fak. Ushuluddin ke-3 (1978-80)

– Panitia Penerbitan Terjemahan Alquran Bersajak dalam Bahasa Aceh IAIN Ar-Raniry

– Majelis Syuyuh (fatwa) MPU Aceh

– Doktor pertama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

– Dosen Filsafat di Brunei 1980-an UBD (Universiti Brunei Darussalam) selama 12 Tahun

– Direktur Pusat Studi Purna Ulama, cikal bakal Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry.

– Direktur Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam IAIN Ar-Raniry (2010)

– Berperan dalam perdamaian terutama dalam jeda kemanusiaan, menjumpai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam rangka perdamaian Aceh.

(Sumber: Nur Faisal dan A Rani Usman)

 

/Serambinews